Telkom University Purwokerto melalui Program Pengabdian Masyarakat Hibah BIMA KEMENDIKTI SAINTEK skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) dan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) kembali menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat desa. Kegiatan yang berlangsung di Desa Adiluhur dan Desa Meles, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui penguatan sektor wisata, digitalisasi desa, hingga pengembangan produk pangan kreatif berbahan dasar bunga telang.
Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) di Desa Adiluhur mengusung tema “Penguatan Komoditas Pangan Lokal dan Pariwisata melalui Revitalisasi, Diversifikasi, dan Digitalisasi menuju Desa Wisata Adiluhur yang Berkelanjutan dan Berstandar Internasional.” Program ini diketuai oleh Bapak Muhamad Azrino Gustalika, S.Kom., M.Tr.T. dengan anggota tim Ibu Dr. Diandra Chika Fransisca, S.Si., M.Sc., Bapak Halim Qista Karima, S.T., M.Sc., serta Bapak Muhammad Yayandi, S.Sos., M.Sos.
Sementara itu, Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Meles mengangkat tema “Penguatan Kemandirian Pangan Lokal Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Telang Desa Meles melalui Pengolahan Pascapanen dan Branding Digital Marketing.” Program ini diketuai oleh Bapak Eko Fajar Cahyadi, S.T., M.T., Ph.D. dengan anggota Bapak Dr. Ridwan Pandiya, S.Si., M.Sc. dan Bapak Muhamad Azrino Gustalika, S.Kom., M.Tr.T. Kedua program juga melibatkan mahasiswa pendamping, yaitu Agus Setiyawan, Syiva Qaila Natasa Sugama, Muhammad Hilmiy Nastama, dan Fajar Ario Abdillah.
Program ini mulai dilaksanakan pada 8 Mei 2026 yang diawali dengan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat desa. Kegiatan pengabdian direncanakan berlangsung hingga Oktober atau November 2026 sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan dalam mendukung pengembangan potensi desa.
Salah satu fokus utama program ini adalah meningkatkan nilai jual bunga telang yang sebelumnya hanya dijual dalam kondisi mentah maupun dikeringkan. Melalui pendampingan yang dilakukan tim pengabdian, masyarakat kini mulai diperkenalkan dengan teknologi pengolahan pasca-panen menggunakan alat kristalisator untuk menghasilkan serbuk bunga telang bernilai ekonomi lebih tinggi.
Tidak hanya berhenti pada proses produksi, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai pentingnya kemasan produk yang menarik serta penentuan standar harga pasar. Langkah ini dilakukan agar para petani dan pelaku UMKM desa mampu bersaing di pasar dan tidak mengalami kerugian akibat minimnya informasi harga jual produk.

Keberlanjutan program turut diperkuat dengan dukungan kebijakan lokal di Desa Meles. Setiap kepala keluarga diwajibkan menanam bunga telang sebagai upaya menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri desa yang tengah dikembangkan. Kebijakan ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi nyata antara masyarakat dan perguruan tinggi dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
Di sektor pariwisata, tim pengabdian juga melakukan revitalisasi Museum Salur di Desa Adiluhur yang sebelumnya sempat terbengkalai bahkan mengalami kerusakan bangunan. Kini museum tersebut mulai dihidupkan kembali sebagai destinasi wisata edukatif berbasis teknologi.
Melalui penerapan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR), pengunjung nantinya dapat menikmati pengalaman wisata sejarah yang lebih interaktif dan informatif. Teknologi tersebut memungkinkan masyarakat maupun wisatawan memperoleh informasi sejarah secara visual dan mendalam hanya melalui perangkat digital.
Selain revitalisasi museum, masyarakat juga mendapatkan pelatihan Sapta Pesona guna meningkatkan kualitas pelayanan wisata desa. Pelatihan ini diharapkan mampu membentuk lingkungan wisata yang aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberikan kenangan baik bagi wisatawan yang datang.
Transformasi digital menjadi tantangan lain yang dihadapi masyarakat desa. Rendahnya literasi digital mendorong tim pengabdian untuk memberikan pelatihan intensif terkait pemasaran digital dan penggunaan platform e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia. Warga juga diajarkan teknik pemasaran modern melalui live streaming untuk memperluas jangkauan pasar produk desa.
“Ke depan, program ini direncanakan terus berkembang melalui penerapan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu proses penyiraman dan pemupukan otomatis pada kebun bunga telang milik warga. Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi serta produktivitas pertanian desa,” ujar Ibu Dr. Diandra Chika Fransisca, S.Si., M.Sc. selaku anggota tim pengabdian.
Tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, kegiatan pengabdian ini juga menjadi ruang belajar langsung bagi mahasiswa. Mahasiswa yang terlibat, khususnya putra daerah Kebumen, mendapat kesempatan mengimplementasikan ilmu perkuliahan dalam menyelesaikan persoalan nyata di lapangan, mulai dari pengembangan aplikasi museum hingga pendampingan pemasaran digital masyarakat.
Di luar program utama hibah, tim pengabdian juga memberikan bantuan sosial berupa pompa air untuk membantu masyarakat mengatasi persoalan kesulitan air bersih yang masih dialami di beberapa wilayah desa.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini terbilang sangat tinggi. Kehadiran kembali pendampingan setelah sempat terhenti pada tahun 2023 menjadi harapan baru bagi warga untuk terus berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. Program ini pun direncanakan berjalan hingga tiga tahun ke depan sebagai bentuk komitmen jangka panjang dalam pemberdayaan desa.
Melalui program pengabdian ini, Telkom University Purwokerto diharapkan terus menjadi kampus yang aktif menghadirkan inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat. Tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan teknologi, tetapi juga mampu memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Writer : Widya | Editor : Ella