Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat Skrining Kesehatan sebagai Upaya Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular (PTM), melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) 

“Saya sehat kok, untuk apa periksa kesehatan?” Kalimat seperti ini masih sering terdengar di tengah masyarakat Indonesia. Banyak orang menganggap pemeriksaan kesehatan hanya diperlukan ketika tubuh mulai menunjukkan gejala penyakit. Padahal, berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga gagal ginjal justru berkembang secara perlahan tanpa disadari hingga memasuki tahap yang lebih serius. Ketika gejala akhirnya muncul, kerusakan organ sering kali telah terjadi dan biaya pengobatan menjadi jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahannya.

Paradigma “berobat ketika sakit” menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Selama bertahun-tahun, pelayanan kesehatan lebih banyak dimanfaatkan untuk mengobati daripada mencegah. Akibatnya, penyakit tidak menular terus menunjukkan tren peningkatan dan kini menjadi penyebab utama kematian, baik di Indonesia maupun dunia. Penyakit tidak menular (PTM), yang juga dikenal sebagai penyakit degeneratif, merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan dari satu orang kepada orang lain dan umumnya berkembang secara perlahan dalam jangka waktu yang panjang. PTM menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian yang tinggi. Beberapa di antaranya adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, kanker, penyakit pernapasan kronis, serta diabetes melitus. Perkembangannya yang berlangsung perlahan membuat PTM kerap tidak disadari sejak awal, sehingga pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi penting untuk mengenali faktor risiko maupun kondisi kesehatan sedini mungkin. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi penyakit tidak menular menyumbang sekitar 74% dari seluruh kematian di dunia, menjadikannya penyebab kematian terbesar secara global. Di Indonesia, situasinya juga tidak kalah mengkhawatirkan. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥18 tahun telah mencapai 30,8%, sedangkan prevalensi diabetes melitus berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk usia ≥15 tahun mencapai 11,7%, sementara berbagai survei nasional menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi, obesitas, dan penyakit kardiovaskular di Indonesia. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ancaman kesehatan saat ini bukan hanya penyakit yang menular dengan cepat, tetapi juga penyakit yang diam-diam berkembang tanpa disadari.

Di tengah kondisi tersebut, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir sebagai layanan pemeriksaan kesehatan tanpa dipungut biaya. Program ini dimulai pada 10 Februari 2025 dengan menargetkan 280 juta penduduk Indonesia. CKG merupakan upaya membangun budaya baru dalam sistem kesehatan Indonesia, yaitu menempatkan skrining dini sebagai langkah pertama untuk mengenali faktor risiko, mendeteksi penyakit sejak awal, serta mendorong masyarakat mengambil tindakan pencegahan sebelum kondisi kesehatan memburuk. Dengan demikian, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang menjalani pemeriksaan, tetapi juga dari perubahan cara pandang bahwa menjaga kesehatan harus dimulai sebelum penyakit datang.

Skrining Dini:Mengapa Penting?

Sumber: www.liputan6.com

Skrining dini merupakan langkah untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang sebelum kondisi kesehatan yang semakin memburuk. Berbeda dengan pemeriksaan ketika seseorang sudah sakit, skrining dilakukan untuk menemukan tanda awal penyakit atau faktor risiko pada individu yang terlihat sehat. Konsep sederhana ini memiliki peran besar dalam mencegah penyakit berkembang tanpa disadari. Semakin cepat suatu kondisi diketahui, semakin besar pula kesempatan seseorang untuk melakukan perubahan gaya hidup, memperoleh penanganan, dan mencegah komplikasi. Pemeriksaan ini tidak selalu membutuhkan prosedur yang rumit. Mengukur tekanan darah, memeriksa kadar gula darah, menimbang berat badan, mengetahui kebiasaan pola hidup, serta melihat kondisi kesehatan mental dan deteksi kanker sesuai usia hingga faktor risiko dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui apakah tubuh benar-benar dalam kondisi baik. 

Di sinilah CKG memiliki arti yang lebih besar. Program ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya sebelum terlambat, terutama bagi mereka yang selama ini merasa tidak memiliki alasan untuk pergi ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan gratis dapat menghilangkan salah satu hambatan yang mungkin membuat masyarakat menunda pemeriksaan, sekaligus menjadi pintu masuk untuk mengenali faktor risiko yang sebelumnya tidak diketahui. 

Namun, melakukan pemeriksaan hanyalah langkah awal. Apa yang dilakukan setelah mengetahui hasil pemeriksaan justru menjadi bagian yang menentukan. Seseorang yang ditemukan memiliki risiko kesehatan perlu memperoleh informasi yang mudah dipahami mengenai kondisi tubuhnya dan langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Apabila diperlukan pemeriksaan lanjutan atau pengobatan, masyarakat juga harus mengetahui ke mana harus pergi dan bagaimana mendapatkan pelayanan tersebut. 

Hal ini sejalan dengan arah pelaksanaan CKG pada 2026. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa program CKG tidak boleh berhenti pada skrining, tetapi harus dilanjutkan dengan tata laksana dan penanganan bagi masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan. Dengan demikian, CKG diarahkan bukan sekadar untuk mengetahui siapa yang sakit, tetapi juga memastikan mereka memperoleh tindak lanjut yang tepat.

Siapa Saja yang Perlu Melakukan Skrining Kesehatan?

Sumber: tirta.co.id

Skrining kesehatan penting untuk dilakukan semua orang tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi penyakit sejak dini, meskipun belum muncul gejala. Jenis dan frekuensinya dapat berbeda tergantung faktor risiko masing-masing individu. Berikut kelompok yang perlu melakukan skrining kesehatan, yaitu: 

  • Orang dewasa, meskipun tidak memiliki gejala
    Merasa sehat bukan berarti terbebas dari penyakit. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, status gizi, dan faktor risiko lainnya dapat membantu menemukan hipertensi, diabetes, obesitas, atau risiko penyakit kardiovaskular sejak dini.
  • Orang dengan faktor risiko penyakit tidak menular
    Mereka yang memiliki kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, kelebihan berat badan, atau sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak perlu lebih waspada terhadap risiko PTM.
  • Individu dengan riwayat penyakit dalam keluarga
    Riwayat keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tertentu. Pemeriksaan secara berkala dapat membantu mengenali faktor risiko lebih awal sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan.
  • Lansia
    Seiring bertambahnya usia, risiko berbagai penyakit kronis dan gangguan fungsi tubuh meningkat. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk memantau kondisi seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, gangguan penglihatan, maupun masalah kesehatan lainnya.
  • Penderita diabetes melitus
    Pemeriksaan tidak berhenti setelah seseorang dinyatakan menderita diabetes. Mereka tetap membutuhkan pemantauan kadar gula serta pemeriksaan terhadap kemungkinan komplikasi, seperti gangguan ginjal, saraf, dan mata. Deteksi komplikasi sejak awal dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
  • Penderita hipertensi
    Tekanan darah tinggi perlu dipantau secara rutin meskipun penderita tidak merasakan keluhan. Pengendalian tekanan darah penting untuk mengurangi risiko komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.
  • Ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan Pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan kondisi tertentu yang berpotensi mempengaruhi kesehatan ibu maupun janin sehingga dapat ditangani atau dipantau sejak awal.
  • Pekerja dengan paparan risiko tertentu
    Pekerja yang sering terpapar debu, bahan kimia, kebisingan, atau kondisi kerja tertentu membutuhkan pemeriksaan kesehatan sesuai dengan risiko yang dihadapi di lingkungan kerja.
  • Individu dengan masalah kesehatan mental
    Pemeriksaan kesehatan juga perlu memperhatikan kondisi psikologis. Individu yang mengalami stres berkepanjangan, perubahan suasana hati, kecemasan, atau gangguan tidur dapat memanfaatkan skrining kesehatan mental untuk mengetahui apakah membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Akses terhadap pelayanan kesehatan merupakan suatu kebutuhan sekaligus hak bagi warga negara. Pelayanan kesehatan dasar promotif dan preventif menjadi indikator pelayanan yang wajib dilaksanakan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Kehadiran Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu langkah nyata dalam mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan dini terhadap berbagai penyakit. Hal ini memungkinkan penyakit dapat terdeteksi lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Sehingga, angka kesakitan dan kematian akibat keterlambatan penanganan dapat dikurangi secara signifikan.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 dan #HUT81RI

Penulis : Widya | Mahasiswa S1 Teknik Biomedis Telkom University Purwokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link