Ubah Jagung Lokal Jadi Produk Bernilai Tambah, Telkom University Purwokerto Berdayakan Ibu-Ibu PKK Desa Karanggintung

Banyumas – Potensi jagung sebagai salah satu komoditas pertanian di Kabupaten Banyumas terus didorong agar tidak berhenti pada penjualan dalam bentuk bahan mentah. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim dosen Telkom University Purwokerto mendorong kelompok ibu-ibu PKK Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, untuk mengembangkan jagung lokal menjadi produk pangan bernilai tambah.

Desa Karanggintung merupakan salah satu wilayah sentra produksi jagung di Kecamatan Sumbang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas, pada 2023 luas panen jagung di Kabupaten Banyumas mencapai sekitar 1.274 hektare dengan total produksi 9.682,40 ton dan produktivitas rata-rata 7,60 ton per hektare. Namun, sebagian besar jagung masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dengan harga relatif rendah. Sementara itu, pengolahan yang dilakukan kelompok ibu-ibu PKK masih terbatas pada produk sederhana seperti jagung rebus, puding jagung, dan susu jagung.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim PKM yang terdiri atas Faizah, S.TP., M.Si. sebagai Ketua, serta Yulian Zetta Maulana, S.T., M.T. dan Silvia Van Marsally, S.E., M.M. sebagai anggota. Tim menghadirkan pendekatan multidisiplin melalui keahlian Teknologi Pangan, Teknik Elektro, dan Bisnis Digital untuk membantu masyarakat mengoptimalkan potensi jagung lokal.

Melalui program yang berlangsung selama 6 bulan pada Mei – Oktober 2026 ini, ibu-ibu PKK Desa Karanggintung mendapatkan sosialisasi, pelatihan serta pendampingan dalam pengolahan jagung menjadi produk pangan inovatif. Khususnya yogurt dari susu jagung sebagai produk pangan fungsional. Inovasi juga dilakukan dengan memanfaatkan limbah rambut jagung yang selama ini belum dimanfaatkan dan cenderung dibuang.

Rambut jagung diperkenalkan untuk diolah menjadi teh herbal yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi kombucha rambut jagung melalui proses fermentasi. Pemanfaatan tersebut menjadi bagian dari penerapan konsep produksi berkelanjutan dan minim limbah (zero waste), sekaligus membuka peluang terciptanya produk baru berbasis sumber daya lokal.

Untuk mendukung proses produksi, tim juga menerapkan teknologi tepat guna berupa fermentor skala kelompok serta sejumlah alat bantu produksi yogurt dan kombucha. Fermentor yang dirancang memiliki kapasitas sekitar 20 liter per siklus dengan bahan stainless steel food grade. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu meningkatkan efisiensi proses, konsistensi mutu, serta kapasitas pengolahan produk.

Pendampingan tidak hanya dilakukan pada aspek produksi. Kelompok ibu-ibu PKK juga mendapatkan pelatihan mengenai keamanan pangan, sanitasi dan higienitas, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), pengemasan, penentuan harga, serta pemasaran produk.

Pada aspek pemasaran, mitra diperkenalkan dengan pentingnya identitas produk dan kemasan yang informatif. Selain pemasaran secara langsung di lingkungan sekitar, kelompok juga didampingi untuk memanfaatkan WhatsApp Business dan media sosial sebagai sarana promosi dan komunikasi dengan konsumen.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok dalam mengolah jagung menjadi produk bernilai tambah. Dalam proposal kegiatan, peningkatan pemahaman mitra ditargetkan dari kondisi awal sekitar 30 persen menjadi minimal 80 persen, disertai penerapan praktik sanitasi sederhana serta tersusunnya SOP pengolahan yogurt jagung dan kombucha rambut jagung.

Program pengabdian ini terlaksana dengan didukung pendanaan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) KEMENDIKTISAINTEK. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong penerapan hasil keilmuan perguruan tinggi melalui teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Writer : Silvia | Editor: Widya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link