PURWOKERTO — Maraknya kasus penipuan daring dan kejahatan siber yang menyasar generasi muda mendorong mahasiswa untuk turut mengambil peran dalam meningkatkan literasi digital masyarakat. Melalui program berjudul *“Think Before You Click: Workshop Interaktif Keamanan Digital dan Anti Scam”*, mahasiswa Informatika menghadirkan edukasi keamanan digital bagi pelajar SMP dan SMA di Purwokerto.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 27 April 2026 di SMAN 4 Purwokerto untuk siswa kelas X.7 dan X.10, kemudian dilanjutkan pada 4 Mei 2026 di SMPN 7 Purwokerto kelas 8.B. Secara keseluruhan, workshop diikuti oleh 93 partisipan yang terdiri dari 31 siswa, 33 siswa, dan 29 siswa dari masing-masing kelas.
Program ini berada di bawah bimbingan dosen pembimbing ibu Aulia Desy Nur Utomo, S.Kom., M.Cs., dengan Anisah Syifa Mustika Riyanto sebagai ketua pelaksana. Adapun anggota mahasiswa dalam kegiatan ini yaitu Anisa Yasaroh, Fitri Kusumaningtyas, dan Trie Nabilla Farhah.
Workshop ini hadir sebagai respons atas meningkatnya ancaman kejahatan siber di era digital. Pesatnya perkembangan teknologi membuat internet menjadi bagian penting dalam kehidupan pelajar, baik untuk belajar, berkomunikasi, hingga hiburan. Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman seperti phishing, penipuan online, akun palsu, hingga pencurian data pribadi semakin sering terjadi dan banyak menyasar kelompok usia muda.
Selain itu, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 juga telah membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai upaya perlindungan. Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya pembekalan kompetensi digital bagi pelajar agar mampu melindungi diri secara mandiri ketika mulai aktif di ruang siber.
Ketua pelaksana kegiatan, Anisah Syifa Mustika Riyanto, menjelaskan bahwa workshop ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga pengalaman praktik langsung yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin peserta lebih sadar terhadap pentingnya menjaga keamanan akun digital dan mampu mengenali berbagai modus scam yang sering muncul di media sosial maupun platform digital lainnya,” ujarnya.
Kegiatan dikemas secara interaktif dan partisipatif agar materi lebih mudah dipahami peserta. Workshop diawali dengan sesi pretest untuk mengukur pemahaman awal siswa terkait keamanan digital dan ancaman scam. Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai keamanan digital, jejak digital, pembuatan kata sandi yang aman, hingga penerapan autentikasi dua faktor atau *Two Factor Authentication* (2FA).
Pada sesi anti-scam, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis penipuan daring, ciri-ciri phishing, cara memeriksa keaslian tautan dan situs web, serta langkah yang harus dilakukan ketika menjadi korban penipuan digital. Agar suasana tetap aktif dan menyenangkan, panitia juga menyisipkan sesi ice breaking dan pembagian doorprize bagi peserta yang aktif berpartisipasi.
Tidak hanya mendengarkan materi, peserta juga diajak mengikuti simulasi “Klik atau Skip” untuk mengidentifikasi apakah suatu tautan atau pesan termasuk scam atau bukan. Selain itu, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menyelesaikan studi kasus terkait korban penipuan daring dan berdiskusi mengenai kesalahan yang terjadi serta cara pencegahannya.
Menariknya, peserta juga melakukan praktik langsung audit akun digital pribadi. Dalam sesi ini, siswa didampingi untuk mengecek kekuatan kata sandi, pengaturan privasi akun, hingga aktivasi fitur keamanan tambahan seperti 2FA menggunakan aplikasi autentikator SIKACI.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, peserta mengikuti post-test sebagai evaluasi peningkatan pemahaman mereka terhadap materi yang telah diberikan. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan penyampaian kembali slogan utama workshop, yaitu “Stop – Think – Check” sebagai pengingat agar pelajar lebih bijak dan waspada dalam menggunakan internet.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap literasi digital pelajar di Purwokerto dapat meningkat sehingga risiko menjadi korban kejahatan siber dapat diminimalkan. Selain melindungi diri sendiri, para peserta juga diharapkan mampu menjadi agen edukasi digital di lingkungan keluarga maupun komunitasnya demi menciptakan ekosistem digital yang aman, sehat, dan produktif bagi generasi muda Indonesia.
Writer : Widya | Editor : Ella