Telkom University Purwokerto Akselerasi Literasi Inklusif: Implementasi BRAILLTEK Sebagai Katalisator Kemandirian Siswa SLB Se-Kabupaten Banyumas

Upaya akselerasi inklusivitas pendidikan bagi penyandang disabilitas kini memasuki fase krusial melalui inisiatif strategis civitas akademika Telkom University Purwokerto di SLB Kuncup Mas Banyumas. Kegiatan ini dilaksanakan di bawah naungan Program Studi S1 Teknik Biomedis Telkom University Purwokerto oleh tim pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh Adanti Wido Paramadini, S.T., M.Eng., bersama pakar multidisiplin Sevia Indah Purnama, S.ST., M.T., Irmayatul Hikmah, S.Si., M.Si., Dodi Zulherman, Ph.D., Afin Muhammad Nurtsani, S.T., M.T., Rizki Amalia Pratiwi, S.Tr.T., M.T., dan Shinta Romadhona, S.T., M.T., serta kolaborasi aktif mahasiswa (Muhammad Roekhan, Lutviya Setiyaningsih, Oryza Sativa Souraya dan Ervan Hapiz), dengan mengimplementasikan paket Teknologi Tepat Guna (TTG) bernama BRAILLTEK (Digitalisasi Braille).

Permasalahan fundamental yang diidentifikasi di lapangan berpusat pada inefisiensi akses terhadap media pembelajaran digital adaptif bagi siswa tunanetra. Sevia Indah Purnama, S.ST., M.T., menegaskan bahwa BRAILLTEK hadir sebagai ‘jembatan’ untuk memfasilitasi pembelajaran mandiri melalui teknologi membaca Braille yang hasilnya dapat diverifikasi langsung oleh sistem. Dengan BRAILLTEK, akses pendidikan berkualitas bukan lagi sekadar aspirasi, melainkan realitas yang dapat digenggam secara inklusif untuk memangkas kesenjangan literasi di wilayah Banyumas.

Dari aspek rekayasa, tim memastikan perangkat ini memiliki nilai Human-Computer Interaction (HCI) yang sangat intuitif. Integrasi kode khusus pada kartu RFID memastikan siswa tidak mengalami disorientasi arah baca saat proses pemindaian. Begitu kartu ditempelkan, perangkat akan langsung memberikan respons audio dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris. Interaksi ini dirancang agar terasa natural, sehingga proses adaptasi teknologi oleh siswa tunanetra berjalan cepat dan terasa seperti sedang bermain sambil belajar, bukan mengoperasikan mesin yang rumit.

Target utama dari kegiatan ini adalah mereduksi ketergantungan siswa pada guru pendamping. Melalui kemampuan memvalidasi benar atau salahnya huruf Braille secara mandiri, siswa tunanetra diajak untuk membangun rasa ‘berdaya’ dan efikasi diri yang kuat. “Perasaan ‘aku bisa belajar sendiri’ merupakan fondasi mental utama untuk kemandirian mereka di masa depan,” ujarnya. Keberhasilan siswa mengoperasikan alat ini secara personal menjadi bukti nyata transisi pola belajar menuju kemandirian.

Selain fokus pada siswa, tim juga membekali tenaga pendidik dengan literasi Kecerdasan Buatan (AI) agar ekosistem pendidikan menjadi lebih future-proof. Melalui pengenalan aplikasi berbasis AI seperti text-to-speech, guru dapat menyusun materi ajar yang lebih aksesibel secara mandiri. Sinergi antara teknologi asistif BRAILLTEK dan peran guru yang adaptif terhadap teknologi diproyeksikan akan menciptakan model sekolah inklusif yang modern dan berkelanjutan.Memilih SLB Kuncup Mas sebagai pilot project merupakan langkah taktis tim untuk memvalidasi efektivitas inovasi ini sebelum dihilirisasi ke tingkat nasional. Sesuai dengan Roadmap Kelompok Keahlian tahun 2025-2029, kegiatan ini merupakan bagian dari fase penguatan kapasitas mitra untuk jangka panjang. Diharapkan, solusi literasi yang lahir dari S1 Teknik Biomedis Telkom University Purwokerto ini dapat menjadi proyek percontohan yang manfaatnya dapat dirasakan secara masif oleh seluruh penyandang disabilitas di Indonesia.

Writer : Muhammad Roekhan | Editor : Ella

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link