Telkom University Purwokerto melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Penerapan Teknologi IoT untuk Optimalisasi Distribusi Nutrisi pada Budidaya Melon Hidroponik” di Kelompok Tani Koko Melon, Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, pada 20 November 2025. Program ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas budidaya melon melalui sistem otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan distribusi nutrisi berlangsung lebih akurat dan terkontrol.
Kegiatan ini melibatkan delapan anggota, terdiri dari lima dosen dan sejumlah mahasiswa. Tim diketuai oleh Sena Wijayanto, S.Pd., M.T., dengan anggota dosen Muammar, S.Kom., M.Kom., Toni Anwar, S.Kom., M.MSi., Fikra Titan Syifa, S.T., M.Eng., dan Nicolaus Euclides Wahyu Nugroho, S.Kom., M.Cs., serta mahasiswa Azzam Abdurrohman, Fadli Al Mughni, dan Veronica Pinkan Rosari. Seluruh anggota tim berperan aktif dalam proses perancangan sistem, pengujian, hingga pelatihan penggunaan aplikasi kepada para petani melon.
Dalam sambutannya, Sena Wijayanto menegaskan bahwa modernisasi pertanian menjadi kebutuhan penting untuk menjawab tantangan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor agrikultur. Ia menyampaikan bahwa petani dapat memanfaatkan gadget sebagai sarana otomatisasi sekaligus pengendalian nutrisi tanaman melon, sehingga proses budidaya berjalan lebih efisien. Melalui sistem berbasis aplikasi Blynk, para petani kini dapat memantau kondisi kebun melalui smartphone secara real-time. Ia menambahkan bahwa teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas panen sekaligus menjadi langkah awal digitalisasi pertanian di desa.
Ketua Kelompok Tani Melon, Eko, turut menyampaikan bahwa kolaborasi antara petani dan institusi pendidikan seperti Telkom University Purwokerto sangat membantu dalam menghadirkan inovasi yang dibutuhkan petani saat menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Menurutnya, sistem otomatisasi distribusi nutrisi memberikan keuntungan besar karena memungkinkan petani merespons perubahan kondisi tanaman secara cepat tanpa harus mengelilingi kebun berulang kali. Kini, seluruh informasi seperti suhu, kelembaban, dan tingkat keasaman dapat dipantau melalui aplikasi tanpa mengandalkan pemeriksaan manual.
Sistem IoT yang diterapkan memanfaatkan perangkat mikrokomputer ESP32 yang dipadukan dengan sensor TDS, sensor suhu DHT22, dan sensor pH meter. Seluruh sensor bekerja simultan untuk memantau kondisi tanaman dan mengendalikan pompa nutrisi pada tandon air. Sensor dipasang di beberapa titik kebun agar mampu menangkap data kondisi lingkungan secara merata. Selanjutnya, seluruh data dikirim secara otomatis ke server cloud aplikasi Blynk, sehingga petani dapat melihat grafik perkembangan kondisi tanaman kapan pun dan di mana pun. Sensor juga mampu mengaktifkan pompa irigasi secara otomatis ketika kelembaban atau keasaman tanah berada di luar nilai ideal, sehingga kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi secara konsisten.
Penerapan sistem IoT ini tidak hanya memudahkan proses pemantauan, tetapi juga menunjukkan hasil nyata dalam peningkatan produktivitas. Kualitas dan kuantitas panen melon terlihat meningkat setelah sistem otomatisasi diterapkan. Ukuran buah menjadi lebih seragam, tingkat kemanisan (brix) lebih stabil, dan risiko gagal panen menurun signifikan berkat distribusi nutrisi yang terkontrol. Konsistensi pertumbuhan tanaman menjadi salah satu keunggulan utama dari penerapan teknologi ini, mengingat melon termasuk tanaman yang sensitif terhadap kekurangan air dan nutrisi. Melalui data real time, petani kini dapat mengambil keputusan berdasarkan angka dan analisis, bukan sekadar perkiraan.
Keberhasilan penerapan teknologi ini mendapat perhatian pemerintah desa yang mulai mempertimbangkan kebun melon sebagai pilot project pertanian digital di Desa Panikel. Beberapa petani dari wilayah sekitar juga melakukan kunjungan lapangan untuk mempelajari langsung proses dan manfaat penggunaan sistem IoT dalam pertanian. Fenomena ini membuktikan bahwa pertanian modern tidak selalu membutuhkan perangkat mahal. Dengan memanfaatkan alat sederhana seperti ESP32 dan aplikasi Blynk, petani tetap mampu meningkatkan efisiensi budidaya secara signifikan.
Ke depannya, sistem otomatisasi ini akan terus dikembangkan untuk mencapai konsep smart farming yang lebih komprehensif. Tim pengabdian masyarakat dan kelompok tani berencana menambahkan fitur sistem peringatan dini ketika terjadi anomali cuaca, integrasi perangkat lunak pemantauan visual tanaman, serta pencatatan nutrisi digital berbasis sensor EC dan pH untuk mendukung manajemen pertanian berbasis data. Pengembangan ini diharapkan menjadi contoh nyata implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian Indonesia.
Budidaya melon berbasis IoT melalui aplikasi Blynk di Desa Panikel membuktikan bahwa inovasi pertanian dapat lahir dari desa dan diterapkan secara efektif tanpa harus menunggu teknologi mahal. Dengan kemudahan akses teknologi digital yang semakin terjangkau, pertanian berbasis IoT berpotensi menjadi standar baru sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk kembali tertarik mengembangkan karier di bidang agrikultur. Teknologi ini bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menghadirkan paradigma baru bahwa pertanian dapat dikelola secara modern, presisi, dan berkelanjutan.
Writer : Vania | Editor : Ella