Prestasi membanggakan di level internasional kembali ditorehkan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Biomedis Telkom University Purwokerto. Tim yang diketuai oleh Oryza Sativa Souraya bersama anggotanya, Stephanie Iona Siregar dan Putri Mayadalamal, sukses mengukuhkan diri sebagai 1st Runner-Up dalam kompetisi biomedis internasional yang diselenggarakan di Institut Teknologi Sumatera. Pencapaian ini menjadi validasi atas kapasitas mahasiswa dalam mengolah riset berbasis kearifan lokal menjadi solusi medis masa depan yang diakui di tingkat global.
Kompetisi berskala internasional ini menantang para peserta untuk merumuskan inovasi di bidang rekayasa jaringan dan teknologi kesehatan. Rangkaian kegiatan yang diikuti oleh delegasi berbagai perguruan tinggi ini menuntut standar orisinalitas ide yang tinggi serta kekuatan argumentasi ilmiah. Dalam ajang tersebut, tim dari Telkom University Purwokerto berhasil unggul melalui pendekatan teknologi regeneratif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dalam kompetisi ini, Oryza dan tim mengusung karya esai ilmiah yang memfokuskan pada pengembangan Scaffold 3D untuk penanganan kasus kanker tulang. Inovasi ini menawarkan alternatif baru dalam rekayasa jaringan dengan memanfaatkan potensi biomaterial lokal yang selama ini belum dioptimalkan secara maksimal dalam dunia medis profesional.
Konsep Scaffold 3D yang ditawarkan memanfaatkan sinergi strategis antara Daun Sirih dan Gelatin Ikan. Pemilihan material ini didasarkan pada studi literatur mendalam yang menunjukkan kekuatan bioaktivitas dan biokompatibilitas yang sangat baik bagi jaringan tubuh manusia. Integrasi kedua bahan lokal tersebut dirancang untuk menciptakan struktur penyangga tulang yang tidak hanya efektif secara klinis, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan (sustainability) yang tinggi.
Proses pengembangan karya ini merupakan hasil dari eskalasi riset yang intensif. Berawal dari embrio riset di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim kemudian melakukan riset ulang secara menyeluruh, memperluas kajian literatur, hingga menyempurnakan metodologi agar konsep Scaffold 3D tersebut memiliki dasar penelitian yang solid dan mampu bersaing dengan kompetitor internasional lainnya.
Meski meraih hasil gemilang sebagai 1st Runner-Up, proses penyusunan karya tidak terlepas dari tantangan akademis yang cukup berat. Oryza Sativa Souraya selaku ketua tim mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan integrasi data ilmiah yang sangat beragam ke dalam satu konsep yang koheren. Hal ini krusial agar inovasi yang ditawarkan memiliki dasar penelitian yang jelas, accountable, dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis di hadapan dewan juri.
“Kami berharap konsep Scaffold 3D ini dapat terus dikembangkan melalui penelitian eksperimental dan kolaborasi lintas bidang agar manfaatnya bisa dirasakan secara nyata,” ungkap Oryza. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah titik akhir, melainkan jembatan untuk melakukan uji laboratorium yang lebih mendalam di masa mendatang. Selain itu, tim juga berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu berkompetisi, karena ide riset apa pun dapat berkembang menjadi karya yang signifikan asalkan didukung oleh literatur yang kuat dan ketekunan.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Telkom University Purwokerto mampu menghasilkan inovasi lintas disiplin yang optimal dengan tantangan kesehatan global. Prestasi internasional ini diharapkan menjadi pemantik bagi civitas akademika lainnya untuk terus melahirkan riset yang berdampak dan mengharumkan nama institusi di panggung dunia.
Writer: Muhammad Roekhan