PURWOKERTO – Upaya transformasi digital di sektor kesehatan pedesaan kini memasuki fase krusial melalui inisiatif strategis civitas akademika Telkom University Purwokerto di Desa Ledug, Kecamatan Kembaran. Tim pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh Muhammad Roekhan (Ketua Tim), bersama anggota Oryza Sativa Souraya, dan Annasya Maulafidatu Zahra, secara resmi mengimplementasikan paket Teknologi Tepat Guna (TTG) bernama SIMONTING (Sistem Monitoring Stunting). Proyek ini merupakan manifestasi kolaborasi interdisipliner antara ilmu Teknik Biomedis dan Teknik Informatika yang dikembangkan sepenuhnya di Control System Laboratory.
Permasalahan fundamental yang diidentifikasi di lapangan berpusat pada inefisiensi pencatatan manual yang sangat rentan terhadap kerusakan atau kehilangan data vital balita. Sevia Indah Purnama, S.ST., M.T., selaku dosen pembimbing, menekankan bahwa SIMONTING hadir murni sebagai problem solver untuk memangkas beban kerja kader Posyandu yang selama ini terbebani administrasi manual yang rawan kesalahan tulis atau kertas yang terselip. “Simonting ini hadir untuk mendisrupsi mindset ‘nyatet di buku tebal’ menjadi ‘sekali ukur, data valid tersimpan otomatis’ karena standarisasi data stunting yang akurat mustahil tercapai jika masih mengandalkan prosedur manual,” ujarnya.
SIMONTING mengintegrasikan enam parameter pemeriksaan sekaligus dalam satu perangkat kompak, meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar lengan (LiLa), lingkar kepala (LiKep), detak jantung, hingga kadar hemoglobin (Hb). Inovasi ini menggunakan sensor presisi tinggi seperti mikrokontroler ESP32 dan sensor optik MAX30102 untuk pengukuran biometrik secara non-invasif yang aman bagi balita. “Integrasi ini adalah game changer karena durasi skrining menjadi singkat dan ramah anak, memangkas human error secara drastis sehingga tidak ada lagi cerita salah baca angka di timbangan atau salah rekap ke kertas,” ujarnya.
Salah satu nilai tambah utama dari alat ini adalah kemampuan kalkulasi status gizi secara otomatis menggunakan algoritma Z-Score standar WHO dan Kemenkes. Dengan fitur ini, kader Posyandu tidak perlu lagi menghitung ambang batas secara manual yang memakan waktu dan rawan salah hitung saat antrean panjang. “Sistem langsung mengeluarkan output status gizi anak secara real-time, sehingga kader bisa langsung mengalihkan energi mereka pada core task yang sebenarnya: memberikan edukasi gizi tepat sasaran atau melakukan rujukan medis jika terdeteksi anomali,” ujarnya.
Sistem ini telah membangun ekosistem digital melalui integrasi database cloud dan dashboard web yang memungkinkan pemantauan tren kesehatan anak secara transparan bagi orang tua. Arsitektur sistem dirancang agar scalable dan siap diintegrasikan dengan sistem informasi kesehatan yang lebih luas melalui API yang aman. “Strategi ke depannya adalah merancang sistem yang kokoh agar ketika nantinya ada kebutuhan untuk mengintegrasikan data Si-Monting dengan sistem informasi kesehatan Pemkab Banyumas, infrastruktur dan keamanan datanya sudah siap,” ujarnya.
Inovasi membanggakan ini merupakan bagian dari program Innovillage 2025 yang didukung penuh oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Danantara Indonesia, dan Telkom University. Keberhasilan tim SIMONTING diharapkan tidak hanya berhenti sebagai purwarupa laboratorium, tetapi berkembang menjadi produk massal yang terjangkau (low-cost). “Visinya adalah Si-Monting bisa direplikasi sebagai standar baru Posyandu Kit digital nasional untuk mendukung percepatan target Indonesia Bebas Stunting,” ujarnya.
Writer : Muhammad Roekhan | Editor : Ella