Inisiasi DIKDAYA: Strategi Tim Dosen Telkom University Purwokerto dalam Mengakselerasi Digitalisasi Pedigree dan Keamanan Pangan Desa

Upaya transformasi digital di sektor agrikultur pedesaan kini memasuki fase krusial melalui inisiatif strategis civitas akademika Telkom University Purwokerto di Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen. Tim pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh Sarah Astiti, S.Kom., M.MT., bersama pakar multidisiplin Sevia Indah Purnama, S.ST., M.T., dan Dr. Anggun Fitrian Isnawati, S.T., M.Eng., serta kolaborasi aktif mahasiswa (Lutviya Setiyaningsih, Hamka Zainul Ardhi, Teguh Agung Wicaksono, dan Nasywa Na’ilah Husna), secara resmi mengimplementasikan paket Teknologi Tepat Guna (TTG) bernama DIKDAYA (Digitalisasi Kambing Minda Jaya).

Permasalahan fundamental yang diidentifikasi di Peternakan Minda Jaya berpusat pada inefisiensi pencatatan silsilah (pedigree) manual yang sangat rentan terhadap kerusakan atau kehilangan data vital. Sarah Astiti menegaskan bahwa kondisi ini menyulitkan penelusuran garis keturunan dan memicu risiko besar terjadinya inbreeding (kawin sedarah) secara tidak sengaja, yang berdampak pada penurunan laju pertumbuhan dan kecacatan lahir. “Sistem DIKDAYA hadir sebagai ‘benteng’ melalui fitur Manajemen Perkawinan yang secara otomatis memberikan peringatan dini jika pasangan ternak memiliki hubungan darah terlalu dekat, sehingga risiko depresi genetik dapat dicegah sejak tahap perencanaan,” ujarnya.

DIKDAYA mengadopsi teknologi Radio Frequency Identification (RFID) ear tag untuk memberikan identitas digital unik yang tidak dapat dipalsukan pada setiap individu ternak. Penggunaan handheld reader yang terintegrasi dengan smartphone memudahkan peternak dalam melakukan identifikasi cepat dan akurasi data silsilah secara real-time. Sarah Astiti menjelaskan bahwa strategi adopsi teknologi dilakukan melalui pendekatan User Requirement Analysis dan desain antarmuka yang user-friendly untuk memastikan sistem tetap intuitif. “Kami menerapkan metode learning by doing dan pendampingan rutin agar pekerja peternakan merasa nyaman mengoperasikan sistem ini dalam operasional harian,” ujarnya.

Salah satu pilar inovasi DIKDAYA adalah fitur pelacakan (traceability) berbasis QR Code yang diarahkan langsung pada profil lengkap ternak. Calon pembeli kini dapat memverifikasi riwayat kesehatan, status vaksinasi, hingga asal-usul genetik kambing kurban secara transparan melalui smartphone. “Transparansi ini merespons kepedulian konsumen modern akan keamanan pangan (food security) dan secara signifikan meningkatkan nilai jual ekonomi produk melalui konsep from farm to fork,” ujarnya.

Sistem ini bertransformasi menjadi Decision Support System (DSS) sederhana yang membantu peternak dalam pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making). DIKDAYA mampu memberikan wawasan terkait analisis produktivitas induk hingga rekomendasi pejantan terbaik untuk mengoptimalkan potensi genetik. Sarah Astiti menyatakan bahwa program ini selaras dengan Roadmap Kelompok Keahlian Informatika dan Komputer 2025-2033, khususnya pada penguatan kapasitas masyarakat mandiri. “Harapan kami, DIKDAYA dapat menjadi role model yang siap direplikasi secara masif untuk mendorong transformasi digital peternakan rakyat di wilayah Banyumas,”  ujarnya.

Writer : Muhammad Roekhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link