Indonesia–ITU Concern Forum Gelar E-Workshop NTN Direct-to-Device Bahas Masa Depan Konektivitas Nasional Libatkan Dosen Telkom University

Indonesia ITU Concern Forum (IICF) menyelenggarakan E-Workshop bertajuk “Non-Terrestrial Network (NTN) Direct-to-Device (D2D)” pada Rabu, 21 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk membahas masa depan konektivitas nasional, khususnya dalam menjawab tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

E-Workshop ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa ketergantungan pada jaringan terestrial saja tidak lagi memadai. Teknologi Non-Terrestrial Network (NTN) dengan pendekatan Direct-to-Device (D2D) dinilai mampu membuka akses konektivitas ke wilayah terpencil, perairan, dan daerah perbatasan, sekaligus memperkuat ketahanan komunikasi nasional saat terjadi bencana.

NTN D2D bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga isu strategis yang menyentuh kebijakan, regulasi, dan kesiapan ekosistem nasional. Indonesia perlu membahas ini sejak dini agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga siap secara sistemik.

E-Workshop ini menghadirkan tiga sesi utama yang membahas NTN D2D dari sudut pandang regulasi, teknis, hingga bisnis.

Sesi pertama disampaikan oleh Bapak Rudi Purwanto, yang membahas standardisasi 3GPP untuk NTN D2D serta peluang regulasi. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya harmonisasi standar global dan regulasi nasional mengingat NTN D2D berada di persimpangan antara dunia satelit dan jaringan seluler. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, risiko seperti interferensi spektrum, tumpang tindih perizinan, hingga ketidakpastian investasi dapat muncul.

Sesi kedua dibawakan oleh Dr. Alfin Hikmaturokhman, S.T., M.T. yang juga salah satu dosen Telkom University Purwokerto mengulas arsitektur protokol serta tantangan fisik dalam implementasi NTN D2D. Ia menjelaskan bahwa meskipun teknologi ini menjanjikan, terdapat tantangan teknis signifikan, mulai dari latensi, link budget, hingga integrasi dengan jaringan seluler eksisting, yang perlu dikaji secara mendalam.

Sesi terakhir disampaikan oleh Indrawan Suparan, yang memaparkan use case dan potensi bisnis NTN D2D. Pendekatan Direct-to-Device dinilai mampu mengubah paradigma lama komunikasi satelit yang identik dengan terminal khusus dan biaya tinggi. Dengan D2D, ponsel biasa dapat langsung terhubung ke satelit, membuka peluang besar untuk layanan darurat nasional, konektivitas maritim, IoT di wilayah terpencil, serta perluasan jangkauan layanan seluler tanpa pembangunan BTS baru.

Topik NTN D2D dinilai semakin relevan seiring tren global industri telekomunikasi yang mulai mengintegrasikan layanan satelit langsung ke perangkat seluler. Di saat yang sama, dunia juga tengah bersiap menuju transisi dari 5G ke 6G, di mana NTN menjadi salah satu pilar utama arsitektur jaringan masa depan.

Melalui kegiatan ini, IICF menargetkan tiga kelompok strategis sebagai peserta utama, yakni regulator dan pembuat kebijakan, pelaku industri, serta akademisi dan peneliti. Kegiatan ini diikuti oleh 107 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk regulator, industri, akademisi, dan praktisi. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu NTN D2D dipandang strategis dan relevan bagi masa depan konektivitas Indonesia. Kolaborasi ketiganya dinilai krusial karena pengembangan NTN D2D tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

“Harapannya, agar muncul kesadaran kolektif nasional bahwa isu ini strategis dan perlu dipersiapkan sejak sekarang.” Ungkap Dr Alfin Hikmaturokhman, S.T., M.T.

Dalam jangka menengah, diharapkan lahir kajian nasional yang lebih mendalam, pilot project yang terarah, serta peta jalan kebijakan yang selaras dengan arah ITU, 3GPP, dan kepentingan Indonesia sebagai negara kepulauan.

Melalui penyelenggaraan E-Workshop NTN Direct-to-Device ini, Indonesia–ITU Concern Forum menegaskan komitmennya untuk mendorong kesiapan Indonesia dalam menghadapi evolusi arsitektur jaringan global. Kolaborasi antara regulator, industri, dan akademisi diharapkan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kesiapan kebijakan, ekosistem, dan posisi Indonesia dalam arsitektur jaringan global ke depan.

Writer : Vania | Editor : Ella

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link