PURWOKERTO, Telkom University Purwokerto — Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai akademik dan menyelesaikan perkuliahan. Di balik perjalanan tersebut, terdapat beragam pilihan, kegagalan, pencarian jati diri, hingga tantangan budaya dan perkembangan digital yang perlu dihadapi generasi muda.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam talkshow “Dunia Kampus di Luar Nalar: Ngobrolin Labirin Hidup dan Budaya Anak Muda” yang digelar di Aula Rachmat Effendi, Gedung Direktorat Lantai 5, Telkom University Purwokerto, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–11.00 WIB ini menghadirkan Dr. Oki Rahadianto Sutopo, penulis buku sekaligus Direktur Youth Studies Centre Fisipol UGM, serta Dr. Achmad Sultoni, dosen Telkom University Purwokerto, sebagai pembahas.
Talkshow tersebut mengangkat gagasan dari buku Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi, Budaya, dan Generasi Sosial, dengan fokus pada bagaimana mahasiswa dapat memahami dirinya, membaca perubahan sosial, serta menentukan arah perjalanan hidup di tengah berbagai tuntutan generasi muda.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Telkom. Dalam sambutannya, Wakil Direktur Akademik, Kemahasiswaan, Riset dan Kerjasama Telkom University Purwokerto, Dr. Alfin Hikmaturokhman, S.T., M.T., menyampaikan harapannya agar mahasiswa dapat memanfaatkan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

“Harapannya kegiatan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apresiasi juga kami sampaikan kepada Komunitas Literasi Digital yang telah mempersiapkan acara ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Dr. Alfin.
Selain talkshow, kegiatan juga diisi dengan pengukuhan lima Ambassador 2026 yang kemudian turut menampilkan penampilan di hadapan peserta. Kehadiran para ambassador menjadi salah satu bagian yang memperkuat keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
Memahami Diri di Tengah Labirin Kehidupan
Memasuki sesi utama, Dr. Oki Rahadianto Sutopo mengajak mahasiswa melihat kembali perjalanan kehidupan anak muda dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, masa muda merupakan fase yang penuh dengan pertanyaan mengenai identitas, pilihan, masa depan, hingga posisi seseorang di tengah perubahan sosial.
Ia menjelaskan bahwa gagasan dalam buku yang dibahas berangkat dari kegelisahan untuk memahami anak muda secara lebih dekat, terutama dalam menghadapi kondisi kehidupan yang terus berubah.
“Saya sendiri pernah muda. Hal ini menjadi sebuah kegelisahan, bagaimana kita bisa memahami diri sendiri yang tentunya sangat relate dengan kondisi saat ini,” ungkap Dr. Oki.
Ia menggambarkan buku tersebut sebagai sebuah ruang dialog sederhana untuk memahami anak muda melalui berbagai perspektif, termasuk perspektif youth culture dan generasi sosial.
Menurutnya, generasi muda seharusnya memiliki ruang untuk menentukan arah kehidupannya sendiri. Bukan sekadar mengikuti ekspektasi lingkungan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengenali keinginan, potensi, serta tujuan yang ingin dicapai.
“Secara sederhananya, buku ini merupakan dialog sederhana untuk memahami anak muda, bagaimana kacamata atau perspektif seperti youth culture dan perspektif generasi sosial. Sudah seharusnya generasi kalian mempunyai ruang untuk menentukan sendiri arahnya mau ke mana,” jelasnya.
Gagasan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa yang tengah berada pada fase transisi. Dunia perkuliahan membawa mahasiswa pada lingkungan baru, tuntutan akademik, relasi sosial, hingga keputusan mengenai masa depan. Tidak sedikit mahasiswa yang masih mencari jawaban atas pertanyaan mengenai siapa dirinya dan ke mana perjalanan hidup akan diarahkan.
Keluar dari Labirin Melalui Pengalaman dan Kegagalan
Sementara itu, Dr. Achmad Sultoni membagikan pengalaman personal mengenai perjalanan pendidikannya hingga akhirnya menjadi dosen. Ia mengaku tidak pernah membayangkan dirinya dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral dan kemudian berada di lingkungan akademik sebagai seorang dosen.
Menurutnya, perjalanan tersebut justru memperlihatkan bahwa kegagalan dan ketidakpastian dapat menjadi bagian dari proses seseorang dalam menemukan arah hidup.
“Saya juga tidak pernah membayangkan bisa sampai ke jenjang S3 dan menjadi dosen. Ternyata menjadi motivasi saya, banyak yang bisa saya pelajari dan bisa berinteraksi dengan mahasiswa,” tutur Dr. Achmad.
Ia juga menceritakan sejumlah kegagalan yang pernah dibayangkan maupun dihadapi ketika menjadi mahasiswa, termasuk kekhawatiran tidak dapat menyelesaikan kuliah dan keharusan untuk bekerja.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat pentingnya kesadaran terhadap impian sejak berada di bangku perkuliahan.
“Kalau buku ini saya baca dari dulu, saya mempunyai ekspektasi lebih tinggi bagaimana saya bisa menghadapi dan membuka kesadaran terhadap impian saya,” ujarnya.
Bagi Dr. Achmad, proses keluar dari “labirin” kehidupan tidak selalu berlangsung secara lurus. Mahasiswa dapat menghadapi berbagai pilihan dan hambatan sebelum menemukan jalan yang sesuai dengan dirinya. Karena itu, kemampuan untuk memahami diri dan menghadapi permasalahan menjadi bekal penting dalam menjalani masa perkuliahan.
Digital Capital Jadi Bekal Generasi Z
Tidak hanya membahas pencarian diri dan perjalanan pendidikan, talkshow juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya digital capital bagi Generasi Z.
Kemampuan digital tidak hanya berkaitan dengan kecakapan menggunakan perangkat atau platform teknologi. Lebih dari itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi, memanfaatkan teknologi secara tepat, serta mengetahui cara menghadapi berbagai permasalahan yang muncul di ruang digital.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan karena kehidupan mahasiswa saat ini tidak terlepas dari ekosistem digital, mulai dari proses pembelajaran, komunikasi, pencarian informasi, hingga pengembangan jejaring dan peluang karier.
Melalui talkshow ini, mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana kemampuan digital dapat menjadi modal dalam menghadapi perubahan sosial dan menentukan arah masa depan.
Pada akhirnya, “Dunia Kampus di Luar Nalar: Ngobrolin Labirin Hidup dan Budaya Anak Muda” menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat kehidupan kampus dari perspektif yang lebih luas. Perkuliahan tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi fase untuk mengenali diri, menghadapi kegagalan, membangun kesadaran terhadap impian, serta mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman.
Melalui ruang diskusi dan literasi seperti ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami “labirin” perjalanan hidupnya dengan lebih sadar sekaligus memiliki keberanian untuk menentukan arah yang ingin ditempuh.

Writer : Widya | Editor : Ella