Telkom University Purwokerto Kembangkan Biomaterial Dura Mater Artifisial untuk Aplikasi Bedah Kraniotomi 

Purwokerto – Tingginya angka kasus trauma kepala akibat kecelakaan di Indonesia mendorong kebutuhan akan material dural graft atau dural patch yang digunakan pada prosedur bedah saraf. Sayangnya, hingga saat ini sebagian besar material tersebut masih bergantung pada produk impor. Berangkat dari kondisi tersebut, tim Material Telkom University Purwokerto mengembangkan inovasi modifikasi sifat watertight suspensi selulosa bakteri untuk aplikasi dura mater artifisial dalam pembedahan kraniotomi.

Penelitian ini dipimpin oleh Ibu Adanti Wido Paramadini, S.T., M.Eng. bersama tim mahasiswa Program Studi S1 Teknik Biomedis yang terdiri atas Widya Risma Gandari, Nisrina Ayu Islami, dan Stephanie Iona Siregar.

Ketua tim penelitian, Ibu Adanti Wido Paramadini, menjelaskan bahwa inovasi tersebut berangkat dari kebutuhan nyata di dunia medis, khususnya pada tindakan duraplasty, yaitu prosedur bedah yang dilakukan ketika terjadi kerusakan pada lapisan pelindung otak (dura mater) akibat operasi kraniotomi maupun trauma kepala. Dalam beberapa kasus, dura mater tidak dapat menutup kembali secara sempurna sehingga dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal. Karena itu dibutuhkan material pengganti berupa dural graft atau dural patch yang mampu menutup jaringan tersebut dengan baik.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan material tersebut terus meningkat seiring tingginya angka kecelakaan dan cedera kepala di Indonesia. Namun, hampir seluruh produk yang digunakan rumah sakit masih berasal dari luar negeri sehingga ketergantungan terhadap material impor masih cukup tinggi.

Melalui penelitian ini, tim berupaya mengembangkan kandidat material implan menggunakan bacterial cellulose atau selulosa bakteri sebagai bahan utama. Material tersebut dihasilkan oleh bakteri yang sama dengan pembentuk nata de coco, yakni Acetobacter xylinum, kemudian diproses menjadi lembaran biomaterial yang memiliki potensi sebagai dura mater artifisial.

Menurut Ibu Adanti, pemanfaatan selulosa bakteri dipilih karena lebih ekonomis dibandingkan polimer sintetis yang umumnya digunakan pada produk komersial. Selanjutnya, material tersebut dikombinasikan dengan berbagai biomaterial lain seperti polyvinyl alcohol (PVA), polyvinylpyrrolidone (PVP), kitosan, maupun kolagen guna memperoleh karakteristik mekanik dan sifat watertight yang sesuai untuk aplikasi medis.

Yang sedang kami lakukan adalah memformulasikan kombinasi material tersebut agar nantinya memiliki performa yang baik sebagai lapisan implan. Harapannya penelitian ini tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi dapat berkembang menjadi prototipe yang siap diuji lebih lanjut,” ujar ibu Adanti.

Penelitian ini merupakan pengembangan riset yang telah dilakukan Adanti sejak menempuh pendidikan sarjana dan terus berlanjut saat studi magister. Kini, penelitian tersebut dikembangkan dengan menggabungkan konsep dural patch, hidrogel, serta sistem drug delivery untuk meningkatkan fungsi material implan.

Ibu Adanti memperkirakan penelitian masih membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk mencapai tahap uji in vivo pada hewan percobaan. Sementara itu, menuju tahap uji klinis masih diperlukan proses penelitian yang lebih panjang dan melibatkan kolaborasi berbagai pihak.

Riset seperti ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Setiap mahasiswa melanjutkan bagian penelitian yang berbeda sehingga hasilnya saling melengkapi. Harapannya penelitian ini menjadi tangga menuju pengembangan produk biomaterial medis yang benar-benar dapat dimanfaatkan di dunia kesehatan,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, penelitian juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan fasilitas pengujian. Tidak seluruh instrumen penelitian tersedia di laboratorium kampus sehingga tim harus melakukan berbagai pengujian di sejumlah perguruan tinggi lain.

Kami pernah melakukan pengujian di Universitas Diponegoro maupun Universitas Airlangga karena beberapa instrumen dan fasilitas uji belum tersedia di tempat kami. Tantangan terbesar memang ada pada ketersediaan instrumentasi dan laboratorium,” jelasnya.

Melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi biomaterial medis karya anak bangsa yang tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri manufaktur alat kesehatan di Indonesia pada masa mendatang.

Writer : Widya | Editor : Ella

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link