Kabar membanggakan kembali datang dari Telkom University Purwokerto. Salah satu dosennya berhasil lolos pendanaan Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) 2025–2027 dari Kemendikti Saintek untuk tahun kedua. Capaian ini menegaskan konsistensi kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong inovasi riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
Penelitian yang diusung mengangkat judul “Pengembangan Prototype Produk Olahan Susu Sapi Fermentasi Berbasis Teh Kecombrang dengan Integrasi Teknologi AI–IoT untuk Produksi Pangan Fungsional Berkelanjutan.” Riset ini berangkat dari dua isu strategis: meningkatnya kebutuhan pangan fungsional yang menyehatkan serta tuntutan transformasi industri pangan menuju digitalisasi berbasis teknologi.
Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan produk susu fermentasi yang dipadukan dengan bahan lokal, seperti kecombrang, yang dikenal kaya akan senyawa bioaktif. Melalui pendekatan ini, tim peneliti berupaya menghadirkan inovasi produk pangan yang tidak hanya bernilai gizi tinggi, tetapi juga memiliki keunggulan teknologi dalam proses produksinya.
Sebagai salah satu ketua tim, peneliti dari Telkom University Purwokerto memegang peran penting dalam mengkoordinasikan integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) ke dalam sistem fermentasi. Ia juga bertanggung jawab dalam desain sistem serta pengembangan model AI, sekaligus memastikan riset ini dapat melampaui tahap laboratorium dan menuju implementasi nyata di industri. Penelitian ini turut melibatkan Tim dari Telkom University Purwokerto yang terdiri dari Bapak Dr. Alfin Hikmaturokhman, S.T., M.T., Ibu Nurul Latifasari, S.T.P., M.P., Ibu Faizah, S.T.P., M.Si., Bapak Danny Kurnianto, S.T., M.Eng., serta Ibu Ajeng Dyah Kurniawati, S.T.P., M.Sc.
Keunikan penelitian ini terletak pada kombinasi tiga aspek utama yang jarang diintegrasikan secara bersamaan, yakni pengembangan pangan fungsional berbasis susu fermentasi dan kecombrang, teknologi fermentasi presisi, serta sistem AI–IoT. Pendekatan ini melahirkan konsep smart fermentation, yaitu proses produksi berbasis data yang mampu meningkatkan efisiensi sekaligus konsistensi kualitas produk.
Dalam praktiknya, teknologi AI dan IoT memungkinkan proses fermentasi dipantau secara real-time, dianalisis secara berbasis data, hingga dikendalikan secara adaptif. Sistem ini juga mampu mengambil keputusan otomatis, seperti menentukan waktu optimal penghentian fermentasi, sehingga dapat mengurangi kesalahan manusia serta meningkatkan efisiensi energi dan waktu produksi.
Riset ini merupakan hasil kolaborasi lintas institusi yang melibatkan Telkom University Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Perjuangan Tasikmalaya, serta Koperasi Peternak Satria sebagai mitra industri. Sinergi ini mencerminkan model kolaborasi penta-helix yang menggabungkan kekuatan akademisi dan praktisi.
Adapun target luaran penelitian mencakup pengembangan prototipe fermentor cerdas berbasis AI–IoT, produk susu fermentasi berbasis kecombrang, publikasi internasional, hingga paten dan hak kekayaan intelektual. Selain itu, tim juga menargetkan terbentuknya dataset fermentasi yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi AI di masa depan.
Dari sisi implementasi, inovasi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan pada sektor UMKM pengolahan susu. Dengan teknologi yang lebih efisien dan terstandar, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk peternak sekaligus mendorong transformasi industri pangan berbasis teknologi.
Secara roadmap, penelitian ini dirancang dalam tiga tahap, dimulai dari pengembangan prototipe pada tahun pertama, integrasi AI–IoT dan validasi pada tahun kedua, hingga tahap hilirisasi dan kesiapan implementasi pada tahun ketiga. Implementasi luas ditargetkan dapat dimulai pada fase akhir penelitian.
Meski demikian, tim peneliti juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti integrasi sistem teknologi dengan proses biologis, stabilitas sensor dalam lingkungan fermentasi, serta kebutuhan dataset yang representatif. Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian penting dalam menghasilkan inovasi yang matang dan aplikatif.
Ke depan, riset ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang, mulai dari mendorong digitalisasi industri pangan, meningkatkan kesejahteraan peternak, hingga memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri sebagai solusi nyata dalam pengembangan pangan berbasis teknologi,” ujar ketua tim sebagai penutup sesi wawancara.
Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi tim peneliti, tetapi juga memperkuat posisi Telkom University Purwokerto sebagai institusi yang konsisten mendorong riset berbasis teknologi dan kolaborasi. Melalui inovasi yang dihasilkan, Telkom University diharapkan terus berperan aktif dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat serta menjadi motor penggerak transformasi industri menuju masa depan yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
Writer : Widya | Editor : Ella