
Telkom University Purwokerto kembali menghadirkan inovasi riset yang memadukan seni, teknologi, dan kajian komunikasi publik melalui program penelitian berjudul BAMOS (Bawor Famous): Audience Acceptance Model of Rotoscoping Animation on Public Space with Video Mapping. Program ini menjadi langkah strategis dalam mengangkat kembali karakter budaya lokal ke tengah masyarakat modern dengan pendekatan visual yang lebih relevan dan imersif.
BAMOS merupakan penelitian berbasis seni dan teknologi yang mengusung karakter khas Banyumas, Bawor, sebagai media komunikasi visual di ruang publik. Inovasi utama yang ditawarkan terletak pada penggunaan teknik animasi rotoscoping yang kemudian diproyeksikan melalui teknologi video mapping. Pendekatan ini memungkinkan karakter Bawor tidak lagi hadir sebagai visual statis, melainkan tampil hidup dalam bentuk animasi bergerak yang interaktif dan mampu menciptakan pengalaman visual yang mendalam bagi masyarakat.
Latar belakang lahirnya BAMOS tidak terlepas dari kebutuhan untuk merevitalisasi figur budaya lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Selama ini, banyak karya budaya hanya tersimpan dalam bentuk konvensional yang kurang menarik bagi generasi muda. Melalui integrasi rotoscoping dan video mapping, BAMOS menghadirkan solusi dengan tetap mempertahankan nilai artistik tradisional, sekaligus mengemasnya dalam bentuk visual modern yang lebih komunikatif.
Menariknya, penelitian ini tidak hanya berhenti pada produksi karya visual, tetapi juga mengkaji bagaimana audiens merespons inovasi tersebut. Pendekatan Audience Acceptance Model digunakan untuk mengukur tingkat penerimaan masyarakat, mulai dari aspek persepsi, ketertarikan, kemudahan pemahaman, hingga dampak emosional yang dirasakan. Hal ini menjadikan BAMOS sebagai terobosan yang komprehensif, menggabungkan praktik kreatif dengan analisis ilmiah. Penerapan BAMOS direncanakan akan dilaksanakan pada rentang bulan juni-juli.
Ketua tim peneliti, Ibu Ratih Alifah Putri, S.Ds., M.Ds., menjelaskan bahwa perannya mencakup perumusan konsep, penyusunan metodologi, hingga memastikan integrasi antara seni, teknologi, dan kajian audiens berjalan secara harmonis. Ia didukung oleh tim yang solid, yaitu Ibu A. Magfirah Nugraheni, S.Ds., M.Ds. dan Bapak Anggo Ahmad Saputra, S.Ds., M.Ds., yang berkontribusi dalam aspek copywriting serta pemilihan tipografi untuk memperkuat identitas visual BAMOS.
Target utama penelitian ini adalah masyarakat umum di ruang publik, khususnya generasi muda, pelajar, komunitas seni, serta pengunjung area pertunjukan. Identifikasi audiens dilakukan melalui observasi lapangan, survei demografis, serta pemetaan perilaku terhadap media visual digital. Pendekatan ini memastikan bahwa pengalaman visual yang dirancang benar-benar sesuai dengan karakteristik audiens yang dituju.
Dari sisi kebaruan, BAMOS menawarkan integrasi tiga aspek penting sekaligus: pelestarian budaya lokal melalui animasi rotoscoping, pemanfaatan video mapping sebagai media komunikasi publik, serta pengukuran penerimaan audiens secara ilmiah. Kombinasi ini menjadikan BAMOS sebagai jembatan antara seni, teknologi, dan penelitian komunikasi dalam satu ekosistem inovasi yang utuh.
Dalam proses pengembangannya, BAMOS melalui beberapa tahapan, mulai dari perencanaan konsep dan studi literatur, desain karakter, produksi animasi, integrasi dengan sistem video mapping, hingga implementasi langsung di ruang publik. Tahap implementasi ini direncanakan akan dilaksanakan pada rentang bulan Juni hingga Juli, sehingga masyarakat dapat secara langsung merasakan pengalaman visual yang dihadirkan. Tahap akhir dilakukan evaluasi melalui observasi dan survei untuk menghasilkan analisis yang dapat dipublikasikan secara ilmiah.
Meski demikian, implementasi BAMOS tidak lepas dari tantangan. Proses rotoscoping yang kompleks, adaptasi visual karakter, hingga sinkronisasi teknis antara animasi dan proyeksi menjadi beberapa kendala yang harus diatasi. Selain itu, diperlukan edukasi kepada masyarakat agar video mapping tidak hanya dipahami sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi yang memiliki nilai edukatif dan budaya.
“Ke depan, BAMOS diharapkan dapat menjadi model pengembangan media komunikasi berbasis budaya lokal yang inovatif dan berkelanjutan. Tidak hanya memperkaya kajian akademik di bidang animasi dan media publik, tetapi juga membuka peluang implementasi di berbagai sektor seperti kota kreatif, museum, hingga pariwisata. Lebih jauh lagi, BAMOS diharapkan mampu mendorong kolaborasi antara akademisi, seniman, dan industri kreatif dalam menciptakan ekosistem inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.” ujar ibu ratih
Hadirnya BAMOS diharapkan semakin memperkuat Telkom University Purwokerto sebagai pusat inovasi kreatif yang mampu mengintegrasikan teknologi dan kearifan lokal. Ke depan, kampus ini diharapkan terus mendorong lahirnya riset-riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan industri kreatif di tingkat nasional maupun global.

Writer : Widya | Editor : Ella