Telkom University Purwokerto (TUP) menggelar Media Gathering bertema “Jurnalisme di Era AI” bersama Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto, S.T., M.Sc. (Prof. Suo). Acara yang berlangsung hangat ini dihadiri insan media serta pimpinan kampus, meski diguyur hujan di kawasan Purwokerto.
Acara dibuka dengan sambutan Silvia Van Marsally, S.E., M.M., Kepala Humas, Kerja Sama, dan KUI TUP. Ia menyoroti perkembangan pesat kecerdasan buatan yang kini membawa dampak besar bagi media dan jurnalisme. Direktur TUP, Dr. Tenia Wahyuningrum, S.Kom., M.T., menambahkan bahwa AI memang menawarkan efisiensi, namun juga menghadirkan tantangan serius terkait etika, orisinalitas, dan integritas karya jurnalistik.
Dalam kesempatan itu, Dr. Tenia Wahyuningrum, S.Kom., M.T. juga memaparkan capaian penerimaan mahasiswa baru TUP tahun 2025 yang mencapai 1.281 mahasiswa dari 14 program studi. Angka tersebut termasuk mahasiswa internasional asal Yaman dan Timor Leste. Secara simbolis, penerimaan mahasiswa baru ditandai dengan penyerahan jaket almamater kepada Marcia Carvalho Gama asal Timor Leste. “I sincerely express my happiness to become part of Telkom University. I believe Tel-U will provide me with opportunities to grow and learn something valuable,” ungkap Marcia yang akan menempuh studi di Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV).
Ketua PWI Banyumas, Liliek Darmawan, turut hadir dan memberikan pandangan. Ia menegaskan bahwa meskipun AI bisa menghasilkan teks dengan cepat, karya jurnalistik manusia tetap lebih kuat karena mampu menghadirkan kedalaman, empati, dan nuansa humanis.
Puncak acara diisi dengan talkshow Prof. Suo. Ia berbagi pengalamannya mempelajari AI sejak tiga dekade lalu dan menyebut teknologi ini sebagai “disrupsi sempurna” yang perlu disikapi bijak. “AI unggul dalam akurasi dan kapasitas, sementara manusia memiliki kelebihan dalam kreativitas dan kemanusiaan. Kolaborasi keduanya adalah entitas terbaik,” tegasnya.
Prof. Suo juga memperkenalkan konsep SAFE AI, singkatan dari Secure/Sustainable, Accurate, Fair/Fast, Explainable. Menurutnya, konsep ini bisa menjadi kerangka etis dalam memanfaatkan AI di berbagai bidang, termasuk jurnalisme. Ia menekankan bahwa mahasiswa harus dibekali literasi digital, kemampuan membaca, menulis, dan bercerita sebelum diarahkan untuk menggunakan teknologi AI secara bijak.
Diskusi semakin menarik saat sesi tanya jawab dibuka. Para jurnalis menyampaikan pertanyaan seputar peluang, tantangan, hingga risiko penggunaan AI dalam industri media. Suasana berlangsung interaktif dan menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap perkembangan teknologi ini.
Melalui kegiatan ini, TUP berharap hubungan dengan media semakin erat. Lebih dari itu, acara ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran baru bahwa peran AI dalam dunia jurnalisme bukan untuk menggantikan manusia, melainkan melengkapi agar karya jurnalistik tetap akurat, orisinal, dan terpercaya.
Writer : Musa | Editor : Ella